Senin, 02 September 2013

KURSI KEPEMIMPINAN MENJADI AJANG REBUTAN

KURSI KEPEMIMPINAN MENJADI AJANG REBUTAN
Oleh: Muhsin

Sudah hal yang biasa ketikan kita membahas tentang perebutan kursi kepemimpinan, bahkan dari dahulu kala, yang namanya kursi kepemimpinan selalu diperebutkan. Sejarah mencatat ketika Rasulullah wafat kursi kepemimpinan ummat Islam otomatis tidak ada pemimpinnya, pada waktu itu banyak pihak yang mengkalim bahwa kursi kepemimpinan adalah hak miliknya, seperti kaum Ansor dan Muhajirin yang menganggap pihaknyalah yang berhak menggantikan kepemimpinan umat Islam setelah Nabi wafat. Bukan hanya kaum ansor dan Muhajirin. Tetapi masih banyak kaum atau golongan yang mengklaim bahwa kursi kepemimpinan hak mereka, ini mengisaratkan bahwa perebutan kursi kepemimpinan sejak dahulu memang selalu diperebutkan.

Tidak heran apabila pada masa sekarang kursi kepemimpinan menjadi ajang rebutan, sebab pada dasarnya manusmereka mempunyai jiwa pemimpin, maka banyak orang yang menginginkan kursi kepemimpinan bisa mereka duduki, sekalipun dengan segala macam cara pasti mereka lakukan untuk mencapai tarjet (kursi kepemimpinan) yang mereka inginkan.
Kalau kita melihat perebutan atau pemilihan pemimpin baik itu dari jajaran atas sampai jajaran yang paling bawah, berbagai macam cara yang dilakukan oleh para kandidat untuk mendapatkan kursi kepemimpinan yang mereka hendaki, baik dengan cara yang sportif bahkan dengan cara yang tidak sportif. Inilah fenomena yang terjadi pada masa sekarang, hususnya di bangsa kita ini.
Ketika kepemimpinan diraih dengan cara yang tidak seportif atau dengan cara yang tidak diperbolehkan, misalnya membeli suara, artinya adalah setiap masyarakat yang mempunyai hak pilih, mereka diberi uang dengan tujuan mereka harus memilih calon yang a. Hal inilah yang membuat kepemimpinan menjadi bobrok, sebab siapa saja bisa menjadi pemimpin kalau mereka mempunyai uang untuk membeli suara, maka mereka bisa memenangkan perebutan kepemimpinan tersebut, sekalipun mereka seseorang yang dholim, jangan heran apabila pemimpin tersebut kurang memperhatikan terhadap masyarakatnya. Sebab dari proses terpilihnya menjadi pemimpin sudah tidak sesuai dengan kaidah yang berlaku, sehingga pemimpin yang telah terpilih hanya mementingkan keperluan dirinya sendiri, sebab gocek yang telah dikeluarkan sudah banyak, maka mereka berusaha bagaimana caranya dana yang telah dikeluarkan waktu kampanya bisa kembali, oleh sebab itu jangan heran apabila mereka (pemimpin) tidak fokus terhadap leperluan masyarakatnya, kemudian yang terjadi adalah keterlantaran masyarakat yang dipimpinnya.
Dari pada itu era sekarang kedudukan pemimpin bukan dijadikan sebagai pengabdian diri terhadap masyarakat, malah mereka jadikan kursi kepemimpinan sebagai lahan pekerjaan. Coba kita lihat para pemimpin kita tidak ada yang melarat artinya yang kekurangan, malahan harta mereka berlimpah. Maka masa sekarang jiwa-jiwa pemimpin sudah pudar terkikis oleh mental-mental proyektif. Setidaknya banyak pelajaran yang perlu kita perhatikan bahwa menjadi seorang pemimpin sangatlah tidak mudah, dan mempunyai resiko yang sangat besar, mengapa demikian? Dalam hadis Nabi disebutkan yang artinya; “mereka semua adalah pemimpin (pemelihara) dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Pemimpin akan ditanya tentang rakyat yang dipimpinnya. Suami pemimpin keluarganya dan akan ditanya tentang keluarga yang dipimpinnya. Istri memelihara suami dan anak-anaknya dan akan ditanya tentang hal yang dipimpinnya. Seorang hamba (buruh) memelihara harta majikannya dan akan ditanya tentang pemeliharaannya. Camkanlah bahwa kalmerekan semua pemimpin dan akan dituntut (diminta pertanggung jawaban) tentang hal yang dipimpinnya”. (dikeluarkan oleh Imam Bukhari). Dengan demikmerekan jadilah pemimpin yang amanah dan jujur dalam menjalankan roda kepemimpinannaya.
Seorang pemimpin yang tidak amanah, tidak jujur dan juga tidak mau mengayomi dan melayani rakyatnya maka mereka diancam tidak akan pernah mencium harumnya surga apalagi memasukinya, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi yang artinya;”Sesungguhnya sejahat-jahatnya pemerintahan yaitu yang kejam, maka janganlah kau tergolong dari mereka.” (H.R. bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, kita sebagai hamba Allah seharusnyalah berhati-hati supaya tidak tergolong sebagai pemimpin yang zalim, sebab kepemimpinan seorang hamba akan dipertanyakan dihadapan-NYA kelak. 
Oleh sebab itu berhati-hatilah dalam memilih seorang pemimpin, pilihlah pemimpin yang betul-betul didasarkan kepada kualitas, integritas, loyalitas dan yang paling penting adalah perilaku keagamaannya. Jangan memilih mereka karena didasarkan rasa emosional, baik karena ras, suku bangsa ataupun keturunan. Lebih-lebih era sekarang, kepemimpinan dijadikan ajang kompetisisi, maka seorang kandidat pemimpin melakukan segala macam cara supaya pemilihan jatuh kepadanya. Sedangkan tradisi yang sudah menyebar bahwa seorang calon yang tidak mampu memberikan prektis (uang) sebelum pemilihan maka mereka tidak akan banyak yang memilih artinya adalah mereka akan kalah dalam pertarungan perebutan kursi kepemimpinan, namun sebaliknya seorang calon bisa memberi perkepala sekian ribu maka sudah jelas dmereka akan menjadi pemenang dalam ajang tersebut. Biasanya fenomena yang terjadi siapa yang paling banyak mengeluarkan gocek maka dialah yang menjadi pemenang dalam pemilihan tersebut. Tetapi perlu digaris bawahi bahwa tidak semua yang mengeluarkan gocek banyak yang akan menjadi pemenang.
Maka berhati-hatilah dalam menentukan pemimpin jangan memilih pemimpin yang didasarkan rasa emosional lebih-lebih sebab iming-iming uang, karena jika mereka tidak dapat menjalankan kepemimpinannya, maka ratyatlah yang akan merasakan kerugiannya. Semoga kita tidak termasuk pemimpin yang dholim, amien.